Reaktualisasi Tahun Baru Hijriah

REAKTUALISASI TAHUN BARU 1434 HIJRIAH

Oleh :  Drs. H. Abu Zahlan, M.Pd

               KAMIS, 15 Nopember 2012 M, ummat Islam seantero dunia  merayakan tahun baru Islam 1434 H. Momentum yang memiliki nilai dan makna strategis ini tentunya terasa sayang kalau terlewatkan begitu saja, tanpa adanya tadzkirah bahkan muhasabah perjalanan diri kita dalam kurun waktu satu tahun yang terlewati. Momentum tersebut, sudah semestinya kita jadikan sebagai pijakan dalam melangkah untuk mengkaji ulang dawai kehidupan kita, sehingga kebermaknaan hakiki dapat teraih, baik dalam kerangka kehidupan kekeluargaan, kemasyarkatan dan kebangsaan.

               Dalam terminologi yang kita kenal hingga kini bahwa kata Hijrah, menurut perspektif Islam seperti yang tersurat dalam sabda Nabi Muhammad SAW:  Seorang muslim adalah orang yang menjadikan orang-orang Islam lain selamat dari lidah dan tangannya. Dan orang yang pindah ( Muhajir ) ialah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah. Dari interpretasi tekstual hadits tersebut, beberapa dimensi hijrah dapat kita maknai sebagai kerelaan diri dalam meninggalkan suatu “ Prilaku buruk “ menuju “ Prilaku yang lebih baik dan bermartabat “. Hijrah juga berarti pindahnya seseorang dari satu tempat ketempat lain yang dapat memberikan secercah harapan pada masa depan. Oleh karena itu, rasanya terlalu naif dan akan mengecilkan urgensi berhijrah manakala kata hijrah hanya dipahami sebagai pindahnya fisik, pemikiran dan perilaku seseorang dari satu tempat ketempat lain, tanpa menyentuh akar permasalahan secara gradual. Momentum hijrah semestinya mampu berkontribusi menjadi sumbu ledak yang memunculkan harapan baru, serta keberanian dalam merobah haluan hidup seseorang yang dalam kesehariannya memang masih sering berkutat dengan tradisi kemalasan menjadi bersemangat dan memiliki etos bekerja serta beribadah yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Hijrah harus bermakna juga kembalinya fitrah penciptaan diri manusia itu sendiri, yakni sebagai insan yang selalu rindu akan kasih sayang Allah SWT dengan keinginan hati selalu bertaqarrub dan bermesra-mesraan kepada Allah SWT kapanpun dan dimanapun seseorang berada melalui serangkaian amal saleh serta ibadah yang diajarkan melalui rasulNya.

             Saudaraku, sudah saatnya dan tidak ada kata terlambat untuk memulai,  bangsa Indonesia sebagai bangsa mayoritas berpenduduk muslim, untuk mewujutkan idealisasi dari misi suci yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW  sebagai pioner “ Rahmatan Lil ‘Alamin “, sehingga Islam tidak dipahami dengan pencitraan negatif dan keliru, Islam bukanlah agama yang melegitimasi kekerasan, sadisme dan terorisme, tetapi Islam adalah sebagai dien yang secara tegas mengutuk tindakan anarkhisme, barbar dan kesewenang-wenangan. Islam merupakan agama yang memberikan kesejukan, kedamaian, ketentraman, toleransi yang tinggi kepada sesama ummat manusia, karena Islam sangat respek terhadap ummat lain meskipun berbeda agama, suku dan ras. Bukankah Allah SWT telah berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu semua dari golongan laki-laki dan golongan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu semua saling kenal mengenal satu sama lainnya, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu semua adalah mereka yang paling bertaqwa kepadaKu.

           Saudaraku, Islam telah memberikan jalan dan bimbingan bagi perjalanan kehidupan ummat manusia, melalui serangkaian ibadah dimana waktu dan tata caranya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. Hal demikian, jika kita realisasikan bersama tentu akan memberikan kebahagiaan lahir dan bathin. Kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya akan berakhir saat ruh telah berpisah dengan raga kita, lepasnya ruh dari raga kita memberikan makna telah terbukanya babakan kehidupan baru yang sesungguhnya dan lebih kekal abadi, yaitu kehidupan di alam akhirat.

Tragedi yang masih sering menimpa bangsa Indonesia, misalnya tawuran pelajar, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar warga kampung, perdagangan bayi dan perempuan, kasus narkoba, pemalakan maupun perbuatan kriminal dan tindakan asusila lainnya, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945 maupun dogma ajaran agama yang dianut oleh masing-masing warga negara, adalah sebagai indikator dan pencerminan telah terkikisnya nilai-nilai persaudaran, persatuan, nasionalisme, kebangsaan dan religiusitas sebagai suatu bangsa yang mestinya tetap melekat dengan tradisi menjunjung tinggi nilai relegiusitas dan budaya ketimurannya.

          Peristiwa hijrah seperti yang pernah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW 1434 tahun  silam, sudah semestinya dapat dijadikan telaah kritis, untuk meredefinisi serta mereaktualisasi terhadap hal-hal yang memang sudah sejatinya memunculkan keberanian untuk melakukan evaluasi secara totalitas dalam menghadapi carut marutnya persoalan-persoalan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara melalui tekad yang membaja untuk segera memulai berbuat terhadap hal-hal yang baik dan benar dari diri kita sendiri   ( ibda’ binafsik ).

         Momentum dan semangat yang dapat kita petik dari Hijrah Nabi Muhammad SAW yang memiliki jangkauan jauh kedepan, yakni ajaran mencari tempat serta format yang sangat briliant agar dapat menemukan markas  baru bagi sebuah perjuangan untuk “ Tinggal landas“ bagi terwujudnya tatanan dalam mereformasi paham  keimanan yang sesat dan keliru, sekaligus pembentukan masyarakat madani ( civil society ) yang dibangun atas prinsip-prinsip kebersamaan, kesetaraan, saling menghargai, tolong menolong dan tanggung jawab sebagai upaya merubah arah perjalanan sejarah kehidupan yang kelam, menuju masyarakat baru yang meninggalkan segala bentuk tradisi dan budaya-budaya jahiliyah, yang jauh dari tradisi dan budaya islami.

          Bingkai memperingati tahun baru 1434 H ini, harus dijiwai semangat kebersamaan dan kesadaran nasionalisme yang tinggi, kita semua harus mencoba menarik benang merah urgensi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW, dimana  relevansinya tidak tersekat ruang dan waktu, sebab kita tidak akan pernah memungkiri pengalaman Nabi Muhammad SAW sebagai Khotamul Anbiya Wal Mursalin yang sesungguhnya juga merupakan sumber inspirasi dan keteladanan akan tetap aktual sepanjang sejarah  perjalanan kehidupan ummat manusia dalam mewariskan nilai-nilai inspiratif bagi laku-lampah kehidupan pribadi serta kesalehan sosial yang telah teruji.

           Untuk itulah, momentum tahun baru hijriah seharusnya tetap dijadikan sebagai gerakan kongkrit yang dilakukan  oleh setiap individu elemen bangsa Indonesia, tanpa terkecuali, agar mau memandang jauh kedepan  sehingga mampu menempatkan dan menjadikan Indonesia kedalam keutuhan bingkai NKRI yang merupakan harga mati dan tidak tergoyahkan oleh pihak manapun.

           Berkesempatan merayakan tahun baru 1434 H sungguh merupakan karunia Allah SWT yang luar biasa, sehingga sayang kalau kita sia-siakan. Momentum ini semestinya berimplikasi positif akan terjadinya evaluasi diri secara kaffah akan kebermaknaan kesejatian pengalaman kehidupan seseorang yang akan melahirkan sebuah kesadaran baru lagi dalam bingkai nasionalisme religiusitas, sehingga dapat kita pahami dalam konteks kebhinekaan berbangsa dan bernegara secara utuh dan menyeluruh, yang tidak terkooptasi kepentingan golongan bersifat temporal, dimana pada gilirannya nanti akan tertanam pada setiap elemen masyarakat Indonesia akan lahirnya sebuah kesadaran baru, betapa pentingnya merajut kembali simpul ukhuwah Islamiah dengan landasan yang mengkedepankan citra jalinan ukhuwah insaniah, ukhuwah bashariah dan ukhuwah wathoniyah yang akhir-akhir ini cenderung mulai terkikis dan terabaikan.

 Saudaraku, hari kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah harapan serta mimpi kita. Untuk itu, mari kita satukan langkah, kita samakan visi dan persepsi membangun menuju Indonesia baru, Indonesia yang bermartabat, sejahtera, berkeadilan dan berkemakmuran untuk bersama.

            Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan secercah harapan dan  kejernihan hati nurani kita semua dalam melihat persoalan bangsa, yang kemudian menggugah kesadaran baru kita bersama, untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia tercinta.

 

 

                                                                                   Bandung, 13 Nopember 2012

                                                                                                    Penulis,

 Catatan:

     Penulis adalah Kepala SD Plus Darul Ulum-RSDBI dan Wasekum Wushu Indonesia Kabupaten Jombang.

Tulisan dikirim dari Hotel Grand Pasundan Bandung, saat mengikuti Pembinaan Kepala SD RSDBI se Indonesia dari Kemendikbud.

Comments

Beri Komentar







[Emoticon]